Mandala Nusantara News, Pemalang, Jawa Tengah – Praktik prostitusi terselubung di sekitar Terminal Induk Pemalang dan sepanjang Jalur Lingkar Pantura diduga masih terus berjalan meskipun wilayah tersebut kerap menjadi sasaran operasi penertiban. Sejumlah warung yang tampak hanya menjual kopi dan minuman ringan disinyalir juga menyediakan layanan seks secara diam-diam.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan aktivitas di area tersebut mulai meningkat pada dini hari. Seorang pengunjung berinisial SJ berusia 35 tahun mengaku bahwa layanan tersebut memang tersedia dengan harga yang berbeda-beda.
“Biayanya bervariasi, mulai dari Rp150.000 sampai Rp200.000 untuk sekali layanan,” kata SJ kepada media pada Rabu 6 Mei 2026.
Hal serupa juga disampaikan pengunjung lain berinisial JN. Ia menyebut sejumlah tempat di kawasan yang dikenal warga sebagai ‘Calam’ tidak hanya menyediakan karaoke, tetapi juga menawarkan wanita penghibur.
“Di beberapa warung memang ada tempatnya dan ada perempuan yang siap menemani. Tarifnya tergantung kesepakatan, rata-rata sekitar Rp200.000,” jelas JN.
Keberadaan praktik ini menimbulkan keraguan masyarakat terhadap efektivitas penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Pemalang. Padahal Satpol PP bersama aparat terkait disebut rutin melakukan razia dan penertiban. Namun di lapangan, aktivitas tersebut masih terlihat berlangsung baik secara tertutup maupun terbuka.
Sampai saat ini Satpol PP Kabupaten Pemalang belum menyampaikan keterangan resmi terkait dugaan lemahnya pengawasan razia maupun rencana langkah lanjutan untuk menertibkan kawasan Pantura dari aktivitas prostitusi.












