Perhutani KPH Pemalang dan BPBD Tegal Bersinergi untuk Keselamatan Warga dan Hutan

Mandala Nusantara News, Tegal, Jawa Tengah — Di tengah kekhawatiran akan cuaca ekstrem yang terus berlanjut sejak penghujung tahun 2025, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang mengambil langkah proaktif dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal dan Pemerintah Kabupaten Tegal dalam sebuah sosialisasi penting. Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi ini digelar pada hari Jumat, 13 Februari 2026, di Aula Kantor BPBD Kabupaten Tegal. Inisiatif ini menekankan pentingnya mitigasi partisipatif, di mana masyarakat berperan aktif dalam mengurangi risiko bencana longsor dan banjir yang mengintai wilayah-wilayah rawan.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting yang memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana dan pengelolaan hutan. Di antara mereka adalah Wakil Administratur KPH Pemalang Agustinus Rido Haryanto beserta jajaran yang membawa serta pemahaman mendalam tentang kondisi hutan dan potensi risikonya. Turut hadir pula Komandan Regu Polisi Hutan Mobile Purwanta beserta anggota, yang memiliki tugas penting dalam menjaga keamanan dan kelestarian hutan. Kepala BKPH Jatinegara Taufik Hidayat beserta jajaran juga hadir untuk memberikan perspektif dari tingkat operasional pengelolaan hutan. Kehadiran Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Tegal Muhamad Affifudin beserta jajaran memastikan bahwa sosialisasi ini didukung oleh data dan analisis yang akurat mengenai potensi bencana. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para kepala desa terkait dan tokoh masyarakat setempat, yang merupakan ujung tombak dalam mengimplementasikan kesiapsiagaan bencana di tingkat komunitas.

Dalam sambutannya, Wakil Administratur KPH Pemalang Agustinus Rido Haryanto dengan tegas menyampaikan betapa pentingnya peran serta aktif masyarakat dalam menjaga fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Ia menekankan bahwa hutan bukan hanya sekadar kumpulan pohon, tetapi juga merupakan benteng alami yang melindungi masyarakat dari berbagai bencana. Agustinus Rido Haryanto juga menyadari bahwa Perhutani tidak dapat bekerja sendiri dalam mengawasi kawasan hutan yang sangat luas. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat Kabupaten Tegal, khususnya mereka yang tinggal di sekitar kawasan hutan, untuk menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi awal apabila ditemukan tanda-tanda bahaya, seperti retakan tanah atau potensi longsor di dalam kawasan hutan. Menurutnya, hutan yang terjaga dengan baik adalah jaminan keselamatan bagi warga yang berada di wilayah bawahnya, sehingga menjaga kelestarian hutan sama dengan menjaga keselamatan diri sendiri dan komunitas.

Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Tegal Muhamad Affifudin mengingatkan semua pihak bahwa kesiapsiagaan harus dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga dan desa. Ia menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga dan setiap warga desa perlu memiliki pemahaman yang baik tentang risiko bencana yang ada di sekitar mereka, serta langkah-langkah yang harus diambil untuk mengurangi risiko tersebut. Mengingat topografi wilayah Tegal yang berbukit, ancaman longsor dan banjir bandang menjadi perhatian utama. Muhamad Affifudin menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan berarti rasa takut yang berlebihan, melainkan pemahaman yang mendalam tentang langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Ia mengapresiasi langkah proaktif yang telah diambil oleh Perhutani dan pemerintah desa dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Ia juga mengimbau warga untuk selalu memantau informasi cuaca dari sumber-sumber yang terpercaya dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila melihat tanda-tanda alam yang tidak biasa, terutama saat hujan deras turun lebih dari dua jam tanpa henti.

Kepala Desa Jatinegara Budiman menyambut baik kolaborasi lintas sektoral yang melibatkan Perhutani, BPBD, dan pemerintah desa. Ia menyadari bahwa pemahaman warga mengenai batas kawasan hutan dan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. Budiman juga menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen untuk memperketat pengawasan pemanfaatan lahan di area lereng. Ia menyadari bahwa alih fungsi lahan yang tidak terkendali dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir. Pihaknya juga menyampaikan terima kasih kepada Perhutani dan BPBD yang telah membekali warga dengan pengetahuan teknis mengenai deteksi dini bencana. Ia berharap bahwa pengetahuan ini dapat membantu warga untuk lebih waspada terhadap potensi bencana dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan dapat terbangun kesadaran kolektif dan kesiapsiagaan yang lebih kuat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Dengan demikian, keselamatan masyarakat dan kelestarian hutan dapat terjaga secara berkelanjutan. Kolaborasi antara Perhutani, BPBD, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan berkelanjutan bagi semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *