Sampah Menggunung di Dua TPS Pemalang, Warga Keluhkan Bau Menyengat dan Resiko Kesehatan

Mandala Nusantara News, Pemalang, Jawa Tengah – Aroma busuk yang menusuk hidung dan pemandangan tumpukan sampah yang meluber hingga ke pinggir jalan kini telah menjadi keniscayaan yang tidak diinginkan bagi ribuan warga Desa Mengori dan sekitarnya, serta setiap pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Kondisi dua Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang berada di Desa Mengori dan di sepanjang Jalan Anggur Bojongbata, Kabupaten Pemalang, telah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan, dengan volume limbah yang menumpuk tak terangkut selama hampir dua hingga tiga pekan berturut-turut.

Berdasarkan pantauan langsung awak media yang dilakukan pada hari Minggu (15/2/2026), kondisi TPS Desa Mengori yang memiliki kapasitas resmi untuk menampung sekitar 5 ton sampah per hari, kini telah terisi hingga lebih dari tiga kali lipat kapasitasnya. Tumpukan sampah rumah tangga yang sebagian besar terdiri dari limbah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan bahan-bahan mudah membusuk, telah membentuk gundukan setinggi lebih dari dua meter di atas permukaan bak penampungan yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, bagian atas tumpukan sampah telah meluber keluar dari area yang telah ditentukan, menjalar hingga ke bahu jalan raya yang menjadi akses utama menghubungkan Desa Mengori dengan Kecamatan Pemalang dan wilayah sekitarnya.

Kondisi yang sudah cukup parah ini semakin memburuk akibat serangkaian curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Pemalang dalam beberapa hari terakhir. Air hujan yang mengalir ke dalam tumpukan sampah menyebabkan limbah organik yang terkandung di dalamnya membusuk dengan cepat, menciptakan genangan air lindi yang berwarna kecoklatan pekat dan mengandung berbagai jenis bakteri serta zat berbahaya. Air lindi tersebut kemudian menyebar ke sekitar area TPS dan bahkan mengalir ke saluran drainase yang ada di pinggir jalan, yang kini juga terhalang oleh puing-puing sampah sehingga tidak dapat mengalir dengan lancar. Akibatnya, bau anyir yang sangat menyengat dari sampah yang membusuk menyebar ke berbagai arah, bahkan dapat tercium hingga beberapa ratus meter dari lokasi TPS.

Seorang warga setempat yang tinggal di komplek rumah tinggal tak jauh dari TPS Desa Mengori, yang enggan menyebutkan namanya karena khawatir akan adanya dampak negatif, mengaku telah merasa terganggu sejak lebih dari seminggu yang lalu. Menurutnya, kondisi sampah yang menumpuk seperti ini adalah hal yang sangat jarang terjadi, karena biasanya pihak dinas terkait akan melakukan pengangkutan secara rutin setiap dua hingga tiga hari sekali.

“Ini sudah hampir dua minggu, Mas. Biasanya memang ada jadwal pengangkutan rutin, tapi sekarang sudah hampir 2–3 pekan dibiarkan menumpuk sampai keluar dari area TPS sendiri,” ujar warga tersebut dengan nada khawatir. “Kalau hujan turun seperti beberapa hari terakhir ini, baunya benar-benar masuk sampai ke dalam rumah. Sudah saya tutup semua jendela dan pintu tapi tetap saja bisa tercium. Apa harus menunggu ada salah satu warga yang sakit karena terpapar bau atau air limbah ini baru dinas terkait mau bergerak?” keluhnya sambil menunjuk ke arah tumpukan sampah yang masih terus mengeluarkan asap panas akibat proses pembusukan.

Keluhan serupa juga datang dari arah TPS Jalan Anggur Bojongbata, sebuah kawasan yang menjadi akses lalu lintas cukup padat karena sering dilalui oleh kendaraan umum, truk barang, serta sejumlah besar pengendara motor pada jam sibuk pagi dan sore hari. Kondisi di lokasi ini bahkan lebih mengkhawatirkan karena tumpukan sampah yang tercecer telah menyebar hingga ke badan jalan utama, memakan sebagian besar lebar jalan yang seharusnya digunakan untuk lalu lintas. Sampah yang terbawa oleh air hujan dan lalu lintas kendaraan telah menyebar ke berbagai sisi jalan, membuat permukaan jalan menjadi licin dan penuh dengan serpihan plastik serta bahan lain yang berpotensi membahayakan keselamatan pengendara.

Mas All, salah satu anggota Keluarga Besar Aliansi Wartawan Pantura Bersatu yang tinggal di perumahan dekat dengan kedua lokasi TPS tersebut, mengaku telah mengalami kesulitan setiap kali harus melintas melalui kawasan tersebut. Menurutnya, kondisi sampah yang seperti ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat luas.

“Kebetulan saya tinggal di perumahan tak jauh dari dua TPS itu, jadi setiap hari harus lewat sini minimal dua kali – saat pergi kerja dan pulang kerja,” kata Mas All saat ditemui awak media di lokasi TPS Jalan Anggur Bojongbata. “Setiap kali lewat sini harus tahan napas alias tutup hidung pakai tangan atau masker, karena baunya benar-benar sangat menyengat. Terutama setelah hujan, bau nya makin kuat dan menyengat sampai sulit bernapas.”

Ia juga menambahkan bahwa dampak dari kondisi sampah yang tidak terkelola dengan baik ini tidak hanya terbatas pada masalah bau dan pemandangan yang tidak sedap. Air limbah yang menyebar ke badan jalan seringkali menerobos ke dalam roda kendaraan yang melintas, sehingga kemudian terbawa hingga ke berbagai kawasan lain termasuk ke dalam komplek perumahan. Akibatnya, aroma tak sedap dari sampah dapat masuk ke dalam rumah meskipun lokasi rumah tersebut tidak terlalu dekat dengan TPS.

“Lokasi TPS Mengori dan juga TPS Bojongbata ini sangat dekat dengan jalan umum yang banyak digunakan oleh masyarakat. Saya rasa Pemkab Pemalang seharusnya merasa prihatin bahkan malu melihat kondisi tumpukan sampah yang seperti ini di wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka,” lanjut Mas All dengan nada tegas. “Kita semua tahu bahwa persoalan sampah adalah masalah yang kompleks, tapi setidaknya pengangkutan harus dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tidak bisa dibiarkan begitu saja sampai kondisi menjadi seperti sekarang.”

Para warga yang ditemui secara acak menyampaikan harapan yang sama kepada Pemerintah Kabupaten Pemalang, khususnya kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum yang menjadi instansi terkait dengan pengelolaan sampah dan infrastruktur drainase. Mereka menegaskan bahwa persoalan sampah bukanlah hal yang sepele atau bisa dianggap remeh, karena secara langsung menyangkut kesehatan dan kenyamanan masyarakat luas. Keterlambatan dalam pengangkutan sampah selama hampir tiga pekan dinilai oleh sebagian besar warga sebagai bentuk kelalaian dalam pelayanan publik yang seharusnya diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat.

“Kita tidak menginginkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, tapi jika kondisi ini terus dibiarkan, sangat mungkin akan muncul wabah penyakit seperti diare, demam tifoid, atau bahkan penyakit kulit akibat terpapar air limbah yang kotor,” ujar salah satu warga lainnya, Ibu Siti Nurhaliza yang sering menjelajah sekitar kawasan TPS untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. “Kita hanya ingin agar dinas terkait segera mengambil tindakan nyata – baik itu dengan mengirimkan armada truk pengangkut sampah untuk membersihkan kedua TPS tersebut, maupun dengan melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa depan.”

Hingga berita ini diturunkan dan disiapkan untuk publikasi, kondisi di kedua lokasi TPS tersebut masih belum menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan. Tumpukan sampah masih terlihat menggunung dengan kondisi yang sama, dan belum tampak adanya armada truk pengangkut sampah atau petugas dari dinas terkait yang datang untuk melakukan pembersihan. Beberapa warga bahkan melaporkan bahwa mereka telah menghubungi kantor desa serta dinas terkait beberapa kali untuk menyampaikan keluhan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan atau tindakan yang konkret dilakukan.

Para warga kini semakin menggesa agar proses pembersihan dilakukan sesegera mungkin, sebelum kondisi ini semakin memburuk dan memicu munculnya berbagai masalah kesehatan serta membahayakan keselamatan para pengguna jalan yang setiap hari harus melintas melalui kawasan tersebut. Mereka juga berharap bahwa kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bagi pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan perhatian dan upaya dalam mengelola sampah secara efektif dan berkelanjutan, sehingga Kabupaten Pemalang dapat menjadi daerah yang lebih bersih, sehat, dan layak huni bagi seluruh masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *