Mandala Nusantara News, Jakarta — Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Batang, Pekalongan, dan Pemalang, Rizal Bawazier, meminta aparat kepolisian mengusut secara tuntas kasus meninggalnya seorang asisten rumah tangga asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Korban diduga melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta.
Permintaan itu secara khusus ditujukan kepada Polda Metro Jaya agar proses penyelidikan dilakukan terbuka dan menyeluruh. Rizal mendorong penyidik untuk mengungkap kemungkinan adanya tekanan maupun kekerasan yang dialami korban sebelum peristiwa terjadi.
“Secara nalar, kalau seseorang berani melompat padahal sadar risikonya, pasti ada tekanan yang sangat berat,” kata Rizal Bawazier, Sabtu 25 April 2026.
Ia menilai dugaan tekanan psikologis pada korban harus ditelusuri secara mendalam. Terlebih dalam kejadian itu ada dua ART yang diduga terlibat dalam peristiwa serupa, sehingga memunculkan dugaan kondisi tidak normal di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja korban. Rizal menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti melanggar hukum wajib diproses tanpa pengecualian.
“Siapapun orang atau pihak yang terlibat, jika ditemukan unsur pidana yang membuat korban sampai nekat melompat hingga meninggal, harus diproses secara adil,” ujarnya.
Selain mendorong penegakan hukum, Rizal juga menyoroti peran pemerintah daerah dalam memberikan edukasi ketenagakerjaan kepada masyarakat. Ia menyebut sosialisasi tentang risiko bekerja di luar daerah dan pentingnya perlindungan tenaga kerja harus diperkuat hingga tingkat desa, khususnya di Kabupaten Batang sebagai daerah asal korban.
“Pemerintah daerah lewat camat, kepala desa, sampai RT harus aktif melakukan sosialisasi. Jangan sampai warga, apalagi yang masih di bawah umur, bekerja jauh tanpa perlindungan yang cukup,” tegasnya.
Rizal mengaitkan peristiwa ini dengan keterbatasan ekonomi yang mendorong warga merantau ke kota besar. Menurutnya, jika lapangan kerja di daerah mencukupi, warga tidak perlu pergi jauh ke Jakarta untuk mencari nafkah.
“Kalau di daerah tersedia lapangan kerja yang layak, tentu warga tidak harus ke Jakarta. Ini menjadi tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah daerah,” ucapnya.
Korban diketahui bernama Diva Maelisa, 15 tahun, warga Desa Ngroto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Diva merupakan anak pertama dari dua bersaudara, putri dari pasangan Raudin 37 tahun dan Umayah 33 tahun. Kepala Desa Ngroto, Siam Susanto, mengatakan keluarga korban termasuk dalam kondisi ekonomi terbatas. Ayah korban bekerja serabutan sebagai buruh tani dan kuli bangunan di luar kota.
“Kalau di kampung, bapaknya kerja serabutan. Kadang ikut proyek di luar kota,” ungkap Siam.
Sejak kecil, Diva dikenal sebagai anak yang sederhana dan sering membantu orang tua, termasuk membuat emping melinjo di rumah. Karena keterbatasan biaya, ia memutuskan berhenti sekolah dan bekerja untuk membantu keluarga. Padahal dari sisi usia, korban seharusnya masih duduk di bangku SMA. Diva baru beberapa bulan bekerja sebagai ART di Jakarta, tepatnya setelah Lebaran tahun ini.
“Baru beberapa bulan kerja. Habis Lebaran langsung berangkat ke Jakarta,” kata Siam.
Keputusan keluarga melepas Diva merantau diambil dengan harapan dapat meringankan beban ekonomi rumah tangga, mengingat pekerjaan di desa tidak selalu tersedia.
Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kronologi kejadian. Penyidik juga mendalami kemungkinan adanya faktor lain yang mendorong korban nekat melompat dari lantai atas bangunan kos tersebut.












